Rabu, 07 September 2016

KEKAYAAN HATI BERAKAR PADA KESYUKURAN

Assalamualaikum Wr,Wb..
   Jumpa lagi dengan Saya Syifana Qolbi Priliana. Seorang hamba Allah yang mencoba untuk terus bertafakur dengan-Nya. Bukan untuk bersombong diri, memamerkan kelebihan atau apapun yang intinya menuju pada sifat congkak, tak pernah ada niatan untuk seperti itu, bagi Saya. Sejak petama kali, Saya selalu ingin menebarkan sebuah semangat serta motivasi kepada semua orang, sebanyak-banyaknya.
   Terimakasih pula pada pengunjung yang sudah mampir ke blog Saya yang tak seberapa ini.. Meski bisa dibilang sepi dari pengunjung, tapi tak mengapa. Saya tetap mensyukurinya.. Dilihat dan dibaca oleh orang lain merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi Saya.

   Selama 14 tahun kehidupan Saya, Saya banyak menjumpai berbagai macam hal yang membuka hati Saya.. Menemui ribuan manusia dengan berbagai macam dan karakteristiknya. Ada manusia yang telahir dai keluarga yang sangat mampu tetapi sombong dan masih ingin terus mencari kekayaan duniawi yang tidak seberapa. Ada yang kaya, namun dermawan. Ada yang miskin tapi tak gentar untuk terus berjuang, ada pula yang miskin namun seringkali mengeluh. Menganggap bahwa Allah tidak mempedulikan keadaan dirinya. Serta masih banyak lagi sifat, karakter dan macam-macam manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt.

   Dari situ Saya bisa mengambil pelajaran yang bermakna bagi hidup Saya. Agar dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan terus menjadi lebih baik lagi. Pada hakikatnya, manusia diharuskan untuk terus bersyukur. Menikmati apapun da apa saja yang telah Allah Swt berikan. Dan sebenarnya ini bersumber dari hati kita. KEKAYAAN HATI.
 
   Apabila kita miskin, tapi kita memiliki hati yang kaya, maka Insya Allah kita bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur. Lebih sempurna lagi jika kita hidup di kalangan keluarga berada ditambah dengan kekayaan hati yang dimiliki, dan sudah selayaknya kita meningatkan level kesyukuran kita.

   Ibarat debu, yang kecil di tengah hamparan padang pasir yang sangat gersang. Debu itu tak pernah tau apa yang akan terjadi pada dirinya, kemana angin kan membawa dirinya terbang, dimana dia akan berhenti pada suatu tempat yang terkadang tak pernah ia kenal sebelumnya. Hidup itu adalah sebuah perjalanan menyusuri waktu.

   Atau seperti angin yang dengan tunduk diperintah oleh Allah untuk menghembuskan beberapa gumpalan awan. Awan pun tak menolak, terlebih lagi jika hujan menghilangkan dirinya, dia tak jua meronta. Karena? Itu semua adalah ketentuan-Nya. Sekali lagi, tak penting seberapa hebatnya kita di dunia. Seberapa tingginya jabatan yang diperoleh, seberapa kayanya harta kita. Sebab ada yag lebih hebat dan lebih dari segala-galanya melebihi kita yaitu ALLAH SWT.

   Sekali lagi, hanya Allah yang menentukan.



Hasil gambar untuk gambar padang pasir











Demikian sekelumit kata yang bisa Saya sampaikan.. Mohon maaf apabila banyak kekurangan, karena Saya adalah manusia yang jauh dari kesempurnaan, yang  memiliki banyak keterbatasan. Semoga dapa bermanfaat, terimkasih..
Jazakillah, Wassalamu'alaikum Wr, Wb.

Salam, Syifana Priliana@Sastra_Novela
#354 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar